DAERAH

Prosesi Sakral Mappesabbi, Pemkab Luwu Awali Peringatan HJL ke-758 di Kedatuan Luwu

×

Prosesi Sakral Mappesabbi, Pemkab Luwu Awali Peringatan HJL ke-758 di Kedatuan Luwu

Sebarkan artikel ini

Prosesi adat yang sarat makna tersebut dipusatkan di Kedatuan Luwu, Kota Palopo, sebagai bentuk penghormatan pemerintah daerah terhadap nilai-nilai adat dan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Luwu.

Rombongan Pemkab Luwu dipimpin oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu, Muhammad Rudi, didampingi para Asisten, Staf Ahli Bupati, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta para Camat se-Kabupaten Luwu. Dengan penuh khidmat, rombongan menghadap Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau, serta Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu.

Dalam prosesi tersebut, Muhammad Rudi menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran jajaran pemerintah daerah kepada Datu Luwu selaku pemangku adat tertinggi.

“Saya selaku Penjabat Sekretaris Daerah bersama pimpinan OPD, para Camat, dan Kepala Desa datang ke istana yang mulia ini untuk menyampaikan kebahagiaan kami dalam menyambut dan merayakan Hari Jadi Luwu ke-758 serta Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-80,” ungkapnya.

Prosesi mappesabbi menjadi simbol permohonan restu kepada Kedatuan Luwu, sekaligus penegasan bahwa seluruh rangkaian kegiatan HJL dan HPRL dilaksanakan dengan menjunjung tinggi adat istiadat serta kearifan lokal Tana Luwu.

Usai mappesabbi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tudang ade, sebuah musyawarah adat yang berlangsung di SalassaE Kedatuan Luwu. Kegiatan ini dihadiri oleh kepala daerah se-Tana Luwu, unsur Forkopimda, Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN), serta Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) dari berbagai daerah di Indonesia.

Tudang ade menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah, Kedatuan Luwu, pemangku adat, dan tokoh masyarakat dalam membahas berbagai persoalan kemasyarakatan serta pelestarian adat istiadat. Tradisi ini mencerminkan harmonisasi antara sistem pemerintahan modern dan nilai-nilai budaya Luwu yang diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian kegiatan selanjutnya diisi dengan prosesi mappakurusumange oleh Ana’ TelluE, berupa kirab adat dari Masjid Agung Luwu Palopo menuju Istana Kedatuan Luwu untuk diantar ke LangkanaE.

Pada sore hari, digelar pembukaan Pameran Bassi Luwu serta Kampung Budaya, UMKM, dan Pasar Murah yang diselenggarakan oleh BPP KKLR, BPW KKLR Sulawesi Selatan, serta Universitas Andi Djemma di halaman Istana Kedatuan Luwu.

Malam harinya, rangkaian acara dilanjutkan dengan Royal Dinner Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara. Agenda berlanjut pada Kamis (22/1/2026) dengan musyawarah internal FSKN dan jamuan makan siang bersama yang diselenggarakan Bupati Luwu di Rumah Jabatan Bupati Luwu, Belopa.

Puncak peringatan HJL ke-758 dan HPRL ke-80 dijadwalkan berlangsung pada Jumat (23/1/2026) melalui prosesi adat Makkasawiang/Mabbalisumange dan Mappangolo Lise Rakki, yakni menghadapkan isi rakki ke hadapan Datu Luwu oleh perwakilan daerah. Prosesi ini dilanjutkan dengan Mappasisele Lise Rakki sebagai simbol pertukaran, kebersamaan, dan persatuan antara Kedatuan Luwu dan pemerintah daerah.

Rangkaian puncak acara semakin semarak dengan Manre Saperra, tradisi makan bersama di atas bentangan kain panjang yang melambangkan kesetaraan, kebersamaan, serta pelepasan nazar.

Sebagai penutup, digelar Malam Puncak Peringatan HJL dan HPRL melalui Anugerah Budaya Luwu 2026 di halaman Istana Kedatuan Luwu.

Melalui peringatan ini, Pemerintah Kabupaten Luwu menegaskan komitmennya untuk terus menjaga, melestarikan, serta mengintegrasikan nilai-nilai adat dan budaya Luwu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.