METRO

Kapal Bagang Tak Melaut, Pengambilan Solar di SPBU Tetap Tinggi

×

Kapal Bagang Tak Melaut, Pengambilan Solar di SPBU Tetap Tinggi

Sebarkan artikel ini
Aktivis Luwu Raya, Nasrum Naba

PALOPO — Aktivitas kapal bagang pencari ikan di perairan Palopo mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena terang bulan yang membuat aktivitas penangkapan ikan pada malam hari dinilai kurang efektif.

Akibat kondisi itu, sejumlah kapal bagang memilih untuk sementara waktu bersandar dan tidak melaut. Berkurangnya aktivitas kapal nelayan tersebut secara otomatis turut memengaruhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang digunakan untuk menunjang operasional kapal selama melaut.

Meski demikian, aktivitas pengambilan BBM solar oleh nelayan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Palopo masih terpantau berjalan lancar.

Salah seorang pemilik kapal bagang di Palopo, AL mengatakan fenomena terang bulan memang menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian nelayan memilih menghentikan sementara aktivitas melaut.

“Iya benar, kapal bagang pencari ikan pada sandar karena susah mendapatkan ikan ketika terang bulan. Dan yang pastinya pengambilan solar di SPBU pasti berkurang,” ujar AL, Selasa (28/9/2026).

Baca Juga:  Wisuda UMB, Asrul Sani Harap UMB Dapat Berkolaborasi Dengan Pemerintah

Menurut AL, aktivitas kapal bagang sangat bergantung pada kondisi bulan dan hasil tangkapan yang bisa diperoleh nelayan. Saat bulan terang, ikan yang menjadi target tangkapan disebut cenderung lebih sulit dikumpulkan menggunakan metode penangkapan yang biasa dilakukan kapal bagang.

Karena itu, sebagian pemilik kapal memilih menunggu hingga kondisi kembali dianggap lebih memungkinkan untuk melaut.

“Kalau kapal tidak beroperasi, otomatis kebutuhan solarnya juga berkurang. Tapi nanti kalau sudah kembali melaut, kebutuhan BBM akan kembali meningkat,” jelasnya.

AL menambahkan, kebutuhan solar setiap kapal bagang kembali beroperasi sangat dibutuhakan. Dalam kondisi normal, satu kapal dapat menggunakan sekitar 150 liter solar dalam sehari.

Namun, apabila kapal harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencari lokasi penangkapan ikan, kebutuhan BBM dapat mencapai sekitar tujuh jeriken.

Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas melaut kapal bagang memiliki keterkaitan langsung dengan tingkat konsumsi BBM solar nelayan.

Baca Juga:  Bersama Ketua TP PKK Palopo, Pj Walikota Asrul Sani Hadiri HUT Sulsel Ke 354 di Makassar

Dengan demikian, berkurangnya pengambilan solar saat fenomena terang bulan lebih merupakan penurunan sementara akibat berkurangnya aktivitas melaut, bukan berarti kebutuhan BBM nelayan sepenuhnya berhenti.

AL juga mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan operasional kapalnya, ia mendapatkan BBM solar dari seorang pemotor gerobak berinisial CL.

Ia berharap kondisi segera kembali normal sehingga kapal-kapal bagang dapat kembali beroperasi dan aktivitas penangkapan ikan di perairan Palopo kembali meningkat.

Fenomena terang bulan pun menjadi salah satu faktor alam yang secara langsung memengaruhi aktivitas nelayan, mulai dari frekuensi kapal melaut hingga kebutuhan BBM yang digunakan untuk menunjang kegiatan penangkapan ikan.

Menanggapi kondisi tersebut, Aktivis Luwu Raya, Nasrum Naba, meminta Dinas Kelautan dan Perikanan memperketat pengawasan terhadap penyaluran bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi, khususnya yang dilakukan berdasarkan surat rekomendasi.

Menurut Daeng Naba sapaan akrab Nasrum Naba, pengawasan diperlukan untuk memastikan BBM yang disalurkan benar-benar diterima dan dimanfaatkan oleh nelayan yang berhak sesuai dengan peruntukannya.

Baca Juga:  Pj. Wali Kota Palopo Hadiri Rakor Strategis Optimasi Sistem Pengairan Pertanian 2025

Ia juga mengingatkan agar mekanisme rekomendasi tidak menjadi celah bagi oknum tertentu untuk menyalahgunakan dokumen tersebut demi memperoleh BBM bersubsidi di luar ketentuan.

“Dinas Kelautan harus melakukan pengawasan secara ketat terhadap penyaluran berdasarkan rekomendasi. Ini penting untuk memastikan BBM benar-benar sampai kepada nelayan yang berhak,” ujar Nasrum.

Daeng Naba menilai, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pada saat penerbitan surat rekomendasi. Pemantauan juga perlu dilakukan terhadap proses pengambilan hingga penggunaan BBM di lapangan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan rekomendasi, sekaligus menjaga agar penyaluran BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.

“Jangan sampai surat rekomendasi justru disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia berharap pihak terkait dapat memastikan seluruh proses penyaluran berjalan transparan dan sesuai aturan, sehingga nelayan yang benar-benar membutuhkan BBM bersubsidi tidak dirugikan.